Monthly Archives: February 2013

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENDETEKSI POTENSI BANCANA TANAH LONGSOR DAN BANJIR BANDANG

Tanah longsor adalah suatu pergerakan masa tanah pada bidang kelerengan dari elevasi tinggi rendah dalam suatu waktu. Sedangkan Banjir bandang adalah suatu kondisi luapan air sungai yang disertai material hanyutan dalam volume yang sangat besar dan dalam kecepatan tinggi.

Informasi Lokasi

Salah satu kabupaten baru di propinsi Sulawesi Tengah wilayah Kabupaten Morowali yaitu Kabupaten Tojo Una-uni. Wilayah ini dialiri sungai yang beraliran desar. Saat musim hujan debitnya tinggi dan keruh sedangkan pada musim kemarau debitnya kecil dan jernih. Sungai-sungai besar dikabupaten ini memiliki catatan sejarah panjang sebagai sungai pembawa bencana banjir bandang yang terjadi setiap hujannya khususnya Sungai Podi.

Metode penelitian

Investigasi Topografi

Untuk metode investigasi topografi, cara yang dilakukan adalah dengan melakukan pemetaan melalui citra satelit.

Investigasi Vegetasi dan Geomorfologi disekitar DAS

Investigasi lapangan, dilakukan dengan cara survei jalan dan interview pada masyarakat sekitar daerah terdampak. Target yang diamati adalah vegetasi, struktur geologi tanah dan batuan, pengamatan debit sungai normal dan banjir, material hanyutan. Awal survei dilakukan dari bagian hilir hingga kearah hulu sejauh sekitar 5 km.

Teknologi penginderaan jauh sangat membantu dalam proses pendeteksi dini kemungkinan jauh sangat membantu dalam proses pendeteksian dini kemungkinan terjadinya bencana alam, khususnya tanah longsor. Akurasi dari teknologi informasi penginderaan jauh ini masih harus dievaluasi dengan kegiatan lapangan yang bertujuan untuk mencocokan infirmasi yang ada dengan kenyataan dilapanhan. Potensi bencana banjir bandang masih akan terjadi bahkan mungkin akan lebih besar lagi sehingga perlu dilakukan tindakan untuk menghindari atau meminimmalkan kerugian yang dapat terjadi

 

Sumber : Eri Andrian Yudianto, APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENDETEKSI POTENSI BANCANA TANAH LONGSOR DAN BANJIR BANDANG

APLIKASI SISTEM INFORMASI PENJUALAN BARANG BERBASIS WEB (STUDI KASUS PADA UKM USAHA MANDIRI BANDUNG)

Dibuatnya system web untuk UKM Mandiri ini adalah untuk mengatasi masalah, antara lain :

  1. Proses pencatatab data pemesanan sudah dapat disimpan dalam database.
  2. Sebuah system informasi penjualan yang telah dibuat pada UKM usaha mandiri sudah terintegrasi dengan baik, sehingga memudahkan pihak perusahaan dalam menjalankan proses yang terjadi pada perusahaan.
  3. Laporan penjualan yang dibuat dapat diakses berdasarkan periode yang diinginkan, dan hasil dari penjualan dapat ditampilkan dalam system.
  4. Aplikasi penjualan yang dibuat berbasis web, dimaksudkan agar pengaksesannya mudah dilakukan oleh pengguna system.

Analisis kebutuhan dan perancangan

  1. Kebutuhan perangkat keras

–          Processor : Intel Dual Core T23390 (1,86 Ghz, 533 Mhz, FSB, 1MB 12 Cache)

–          Memory (RAM) : 1 GB DDR 2

–          Harddisk (Space) : 160 BG

  1. Kebutuhan perangkat lunak
    1. Windows XP SP 2
    2. Macromedia Dreamweaver 8
    3. XAMPP
    4. Adobe Photoshop CS3
    5. JUIDE Community
    6. Microsoft Office

Perancangan :

Perancangan Sistem informasi ini dengan menggunakan Use Case Diagram, Class Diagram, Activity Diagram, Sequence Diagram.

 

Sumber : Lidya Novrida Ambarita, Indra Firmansyah, SE, MM, Ak , Eko Darwiyanto, ST, MT , APLIKASI SISTEM INFORMASI PENJUALAN BARANG BERBASIS WEB (STUDI KASUS PADA UKM USAHA MANDIRI BANDUNG)

DETEKSI DINI KEKERINGAN PERTANIAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Dengan dibuatnya system informasi ini diharapkan dapat memberikan informasi kapan dan dimana terjadinya kekeringan berdasarkan pola tanam yang ada di lahan pertanian.  Infomasi yang diberikanpun berupa tingkat kekurangan air untuk tanaman yaitu Tidak kering (air yang tersedia cukup untuk tanaman), Ringan (ketersediaan air  antara 0,7-1 dari kebutuhan air tanaman), Sedang (ketersediaan air antara 0,5-0,7 dari kebutuhan air tanaman), Berat (ketersediaan air antara 0,25-0,5 dari kebutuhan air tanaman), Sangat Berat (Ketersediaan air kurang dari 0,25 dari kebutuhan air tanaman).  Informasi dapat ditampilakan secara spasial dam bentuk peta yang sudah terikat pada posisi bumi (letak geografis).

Data yang dibutuhkan untuk menjalankan program ini mudah didapatkan karena data-data yang digunakan sama dengan data yang ada pada blanko standar untuk operasi dan pemeliharaan irigasi sehingga jika diaplikasikan untuk operasi irigasi dapat langsung digunakan.

Bahan dan Metode :

Perbandingan nilai ketersediaan air dan kebutuhan air dinyatakan dengan nilai K.

Kebutuhan air untuk seluruh daerah Irigasi diperhitungkan dengan menghitung kebutuhan air untuk semua tanaman setiap periode (2 minggu), kemudian kali efisiennya untuk menghitung kebutuhan air disumber air. Besarnya nilai efisiensi yang digunakan adalah sebesar standar yang diperlukan oleh Dinas Pengairan. Air yang tersedia meliputi curah hujan, air dari waduk dan air dari bendungan.

Kebutuhan air untuk tanaman dibendung dapat dinyatakan dengan :

KBTN = (ATN + P + PTN)/Eff………………1)

Keterangan :

KBTN : Kebutuhan air tanaman di bending

ATN : kebutuhan air tanaman

P : perkolasi

PTN : kebutuhan air untuk pengolahan tanah khusus tanaman padi

Eff : efisiensi pengaliran dan distribusi air

Kebutuhan air tanaman didekati dengan memperkirakan besarnya evapotranspirasi yang akan terjadi berdasarkan data agroklimat dan koefisien tanamannya sebagai berikut :

ATN = Etp X Kc…………………..2)

Keterangan :

Etp : evapotranspirasi potensial

Kc : koefisien tanaman

Air yang tersedia untuk tanaman dinyatakan dengan :

ATRS = Cheff + Asung……………..3)

Keterangan :

ATRS : air tersedia

Cheff : Curah Hujan

Asung : Air irigasi dari sungai / bendungan

Kecukupan air ditentukan dengan membandingkan ketersediaan air dan kebutuhan air yaitu :

K = ATRS / KBTN ………………….2)

Pengembangan program system informasi

Software ini bersifat user friendly artinya mudah digunakan karena :

  1. Dibuat berbasis windows dimana pada umumnya di Indonesia system operasi komputer yang digunakan adalah windows
  2. Menu-menu yang digunakan cukup jelas dan terstruktur sehingga mudah ditelusuri
  3. Disetiap tampilan disediakan tombol navigasi yang jelas untuk menuju langkah berikutnya
  4. Format database sehingga mudah berinteraksi dengan program lain dan cocok dengan system operasi windows
  5. Disetiap tampilan informasi hasil perhitungan disediakan fasilitas conke format Microsoft office sehingga pengguna dapat menggunakan data informasi software ini untuk keperluan laporan lain.

Sumber : Anjar Suprapto, Putu Sudira, Sigit Supadmo Arif, DETEKSI DINI KEKERINGAN PERTANIAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

 

PEMANFAATAN INDERAJA DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM INVENTARISASI LAHAN KRITIS DIKABUPATEN KOLAKA UTARA

Lahan kritis tidak mesti hanya dibicarakan oleh Departemen Kehutanan saja secara sepihak, tetapi merupakan sesuatu yang menjadi pokok perhatian bagi semua pengguna lahan, baik sebagai lahan pertanian, perkebunan, pemukiman, dan industri. Sehingga perlu suatu wadah secara bersama untuk menetapkan suatu wilayah kritis atau potensi kritis pada masa yang akan datang. Untuk memudahkan dalam perencanaan penanganan lahan kritis Departemen Kehutanan melakukan kegiatan dengan menggunakan sistem informasi geografis (SIG) lahan kritis (Departemen Kehutanan, 2004).

Dalam rangka mendapatkan informasi tentang luas lahan kritis di Indonesia maka bukan hanya Departemen Kehutanan diharapkan melakukan inventarisasi tetapi semua instansi teknis dapat secara bersama melakukannya.

Begitu pula pendekatan yang dilakukan tidak hanya berdasarkan pada penggunaan suatu metode tertentu, tetapi perlu adanya kombinasi dari berbagai metode dengan sumber informasi yang ada sehingga informasi lahan kritis dapat menjadi lebih tepat dan akurat. Dengan ketersedian teknologi remote sensing dan GIS dan pendekatan berbagai metode maka inventarisasi lahan kritis dapat dilakukan.

Bahan dan Metode

Dalam metode ini digunakan pendekatan secara bertahap dengan melakukan overlay terhadap peta-peta, kesesuaian tata ruang dan penggunaan lahan saat ini. Salah satu analisis dasar yang digunakan dalam penyusunan basis data lahan kritis adlah analisis kesesuain lahan dan penggunaan lahan actual. Dalam analisis ini menggunakan metoda FAO dan berdasarkan peta-peta yang tersedia dan data RePPProT.

Untuk penetapan kekritisan lahan dalam suatu wilayah, maka nilai dari setiap factor dijumlahkan setelah masing-masing dikalikan dengan nilai bobot sesuai dengan besarnya pengaruh relatif terhadap kepekaan wilayah yang bersangkutan. Dalam aplikasi yang diatur berdasarkan  Peraturan Direktur Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, tiap parameter diolah menggunakan metode skoring/WLC untuk mendapatkan nilai kualitatif kekrisisan lahan. Persamaan yang digunakan  adalah :

SKOR = (20 x factor kls lereng) + (15 x factor kls penutupan lahan) + (10 x factor kls tanah) + (10 x factor kls curah hujan).

Analisis untuk memperoleh informasi tentang kondisi lahan saat ini digunakan citra satelit yang memiliki resolusi spasil yang mendukung untuk mendeteksi tingkat penutupan dan penggunaan lahan. Dalam kajian ini menggunaan citra ASTER dengan resolusi 15 m x 15 m. tingkat kekritisan lahan ditentukan dari jumlah nilai untuk masing-masing kriteria sesuai fungsi lahan.

Sumber : Baharuddin, PEMANFAATAN INDERAJA DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM INVENTARISASI LAHAN KRITIS DI KABUPATEN KOLAKA UTARA

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM PEMBANGUNAN DI INDONESIA

Evaluasi belajar siswa adalah salah satu kegiatan yang merupakan kewajiban bagu setiap pengajar. Dikatakan seperti itu karena setiap pengajar pada akhirnya harus dapat memberikan informasi kepada lembaganya ataupun kepada siswa itu sendiri, bagaimana dan sampai dimana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai siswa tentang materi dan keterampilan-keterampilan mengenai mata pelajaran yang telah diberikan.

Prinsip-prinsip dasar hasil tes belajar          

  1. Prinsip dasar penyusunan tes

Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam penyusun tes hasil belajar untuk mengukur tujuan pelajaran atau kemampuan dan keterampilan yang diharapkan.

  1. Tes tersebut hendaknya dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional.
  2. Mengukur sampel yang representative dari hasil beldiar dan bahan pembelajaran yang telah diajarkan.
  3. Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocol untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan.
  4. Didisain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Khusus didalam evaluasi pendidikan yang menyangkut evaluasi hasil belajar, sedikitnya kita mengenal 4 macam kegunaan tes :
    1. Tes untuk menentukan akan ditempatkan dimana siswa dalam suatu jenjang atau program pendidikan tertentu.
    2. Tes guna memperbaiki proses belajar bagi pengajar atau murid harus menggunakan tes yang digunakan untuk mencari umpan balik.
    3. Tes untuk mengukur atau menilai sampai dimana pencapaian siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diajarkan. Dan menentukan kenaikan tingkat siswa yang bersangkutan.
    4.  Tes untuk mencari  nghambat belajar siswa seperti latar belakang psikologi, fisik dan lingkungan social-ekonomi siswa.
  5. Dibuat se-reliable mungkin sehingga mudah diinterpretasikan dengan baik
  6. Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru.

 

  1. Norm-Referenced dan Criterion-Referenced Tests

Dalam buku Dick dan Carey yang berjudul The Systematic Design of Instruction menjelaskan  bahwa pengertian dan perbedaan Criterion-Referenced Tests dan Norm-Referenced adalah :

  1. Criterion-Referenced Tests (CRT) adalah tes yang dirancang untuk mengukur seperangkat tujuan yang eksplisit. Atau CRT adalah sekumpulan soal yang secara langsung mengukur tingkah laku yang dinyatakan didalam tuhjuan-tujuan behavioral atau performance objective.
  2. Penyusunan Norm-Referenced (NRT) erbeda dengan CRT, soal-soal pada NRT tidak ditekankan untuk mengukur penampilan yang eksak dari behavioral objectives atau soal-soal pada NRT tidak terutama didasarkan pada  pengajaran yang diterima siswa atau pada keterampilannya.
  3. Langkah-langkah menyusun tes

Ada beberapa langkah untuk menyusun achievement test yang harus diikuti secara sistematis, untuk memperoleh hasil yang efektif. Bagi para penyusun tes atau para ahli sudah menyepakati bahwa langkah-langkah dalam penyusunan, yaitu :

  1. Menenrukan atau merumuskan tujuan tes.
  2. Mengidentifikasi hasil-hasil belajar yang akan diukur dengan tes itu.
  3. Menentukan atau menandai hasik-hasil belajar yang spesifik, yang merupakan tingkah laku yang dapat diamati dan sesuai dengan TIK.
  4. Merinci mata pelajaran yang akan diukur dengan tes tersebut.
  5. Menyiapkan table spesifikasi.
  6. Menggunakan table spesifikasi tersebut sebagai dasar penyusunan tes.

Langkah-langkah MBS

Dapat disimpulkan secara umum bahwa implementasi MBS akan berhasil jika melalui strategi-strategi berikut :

  1. Sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu memiliki otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan, pengembangan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan, akses informasi kesegala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil.
  2. Adanya peran serta masyarakan secara aktif, dalam hal pembiayaan, proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum.
  3. Kepala sekolah harus menjai sumber inspirasi dan oembangunan dan pengembangan sekolah secara umum.
  4. Adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif.
  5. Semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara bersungguh-sungguh.
  6. Adanya guidelines dari departemen pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan disekolah secara efisien dan efektif.
  7. Sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggung jawabkan setiap tahunnya.
  8. Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adlah meningkatkan pencapaian belajar siswa.
  9. Implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS, identifikasi peran masing-masing kelembagaan capacity building mengadakan pelatihan terhadap peran barunya.

Dampak tsunami diwilayah gempa

Terjadinya gempa besar yang berakibattsunami disuatu wilayah, pasti akan menimbulkan korban jiwa dan harta benda penduduk, termasuk prasarana dan sarana yang telah dibangun oleh pemerintah dan masyarakat. Harta benda yang hancur dapat berupa rumah-rumah penduduk, gedung, sekolah, prasarana dan sarana kesehatan, prasarana jalan, irigasi, air minum, listrik, telepon, gas, dsb.

Pendidikan Tsunami kepada masyarakat

Sasaran pendidikan tsunami ini adalah masyarakat diwilayah yang rawan gempa dan dibawah sebuah waduk. Diindonesia wilayah yang rawan gempa dan tsunami terdapat diseluruh pantai mulai dari ujung Aceh, pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Bali, NTB, NTT dan kepulauan Maluku.

Pendidikan tsunami yang perlu diberikan adalah :

  1. Bagaimana mengenal tanda-tanda tsunami.
  2. Tindakan yang perlu dilakukan dalam menghadapi tsunami.

Siapa yang melakukan pendidikan tsunami

Organisasi-organisasi yang menangani pendidikan tsunami adalah Kementrian yang terkait dengan masalah-masalah social seperti Menko Kesejahteraan Rakyat (Kesra), atau Departemen Sosial yang dibantu oleh instansi-instansi teknis yang terkait seperti Departemen PU, BMG, Badan SAR, Dep. Diknas, Perguruan Tinggi, dsb.

 

Sumber : Yoga Candra M, S.Pd. , SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM PEMBANGUNAN DI INDONESIA